PENGENALAN KOMPAS
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR ............................................................................... i
DAFTAR
ISI .......................................................................................... ii
DAFTAR
GAMBAR ................................................................................ iii
DAFTAR
TABEL .................................................................................... iv
BAB
I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
i.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
I.2 Maksud dan Tujuan ........................................................................... 2
I.3 Alat dan Bahan ................................................................................. 2
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 3
II.1 Pengertian Pemetaan Geologi .............................................................. 3
II.2 Pengenalan Kompas ......................................................................... 4
II.3 Pengukuran/Pemetaan Detail
Dengan Cara Grid ...................................... 8
BAB
III METODOLOGI PENELITIAN
..................................................... 9
III.1 Cara Menentukan Arah Dengan Kompas ............................................. 9
III.2 menetukan sudut kemiringan permukaan
tanah dan lereng dengan klinometer 10
BAB
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
....................................................... 11
IV.1 Hasil ............................................................................................. 11
IV.1.1 Tabel Data .............................................................................. 11
IV.1.2 Perhitungan .............................................................................. 12
IV.2 Pembahasan .................................................................................. 18
BAB
V PENUTUP ................................................................................... 20
V.1 Kesimpulan ...................................................................................... 20
V.2 Saran ............................................................................................. 20
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
A TUGAS PENDAHULUAN DAN RESPON
LAMPIRAN
B LAPORAN SEMENTARA
LAMPIRAN
C PETA HASIL PLOT
DAFTAR GAMBAR
Gambar
2.1 kompas bidik ............................................................................ 4
Gambar
2.2 kompas silva ............................................................................ 5
Gambar
2.3 kompas M 53 A 515 ................................................................... 5
Gambar
2.4 kompas brunton ........................................................................ 6
DAFTAR
TABEL
Tabel 4.1 Hasil pengamatan dan
pengolahan ................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Salah satu pekerjaan yang pokok bagi seorang
geologiwan adalah membuat peta geologi. Peta geologi diartikan sebagai bentuk
ungkapan data geologi suatu daerah atau wilayah yang ketelitiannya
didasarkan pada skala petanya. Peta geologi tersebut menggambarkan atau
memberikan informasi segala hal mengenai keadaan geologi wilayah tersebut
antara lain sebaran, jenis, dan sifat batuan, umur, stratigrafi, struktur,
fisiografi, sumberdaya alam dan energi. Ada beberapa cara penggambaran
informasi tersebut antara lain dengan warna, simbol dan corak atau gabungan
dari ketiganya. Nilai dari suatu peta geologi sangat tergantung pada si pemeta,
seperti ketelitiannya di lapangan, pengetahuan dasar ilmu geologi, dan tentunya
pengalamannya. Peta geologi dapat dipergunakan untuk bermacam keperluan,
sehingga pembuatannya harus disesuaikan dengan keperluan tersebut. Walaupun
pada dasarnya semua peta geologi adalah sama, tetapi untuk tiap-tiap macam peta
mempunyai penekanan-penekanan tertentu sesuai dengan tujuan atau keperluan
pembuatan peta tersebut.
Karena kompleksnya pekerjaan pembuatan peta geologi
tersebut maka selain dituntut pengetahuan dasar geologi, diperlukan juga
managemen pengumpulan data di lapangan. Hal ini dimaksudkan agar pekerjaan di
lapangan dapat dilakukan seefisien mungkin dengan waktu sesingkat mungkin dan
biaya yang sekecil mungkin. Dalam aktivitas lapangan bagi geologist tentunya
dibutuhkan skill dan berbagai peralatan demi kelancaran aktivitas tersebut.
Salah satunya ialah Kompas Brunton, yang tidak hanya sebagai alat penunjuk arah
saja tetapi juga dapat digunakan untuk mengukur kemiringan lereng atau batuan,
mengukur ketinggian suatu unsur geologi dengan cara mencari sudut elevasinya,
mengukur kedudukan struktur.
I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud
Setelah melakukan
praktikum ini, praktikan dapat mengetahui bagian-bagian kompas dan fungsinya
serta dapat menghitung sudut azimuth dengan menggunakan kompas brunton.
I.2.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum
ini adalah :
1.
Mengenal bagian-bagian kompas dan fungsi-fungsinya
2.
Menghitung sudut azimuth dengan menggunakan kompas
brunton
3.
Membuat plot dari hasil perhitungan titik
I.3 Alat dan Bahan
1.
Kompas Brunton
2.
Patok panjang 2 meter (satu kelompok)
3.
Patok panjang 50 cm sebanyak empat
4.
Roll meter
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
II.1 Pengertian Pemetaan Geologi
Pemetaan adalah suatu kegiatan
pengumpulan data lapangan, yang memindahkan keadaan sesuangguhnya dilapangan
(‘fakta’) keatas kertas gambar atau kedalam peta dasar yang tersedia, yaitu
dengan menggambarkan penyebaran dan merekonstruksi kondisi alamiah tertentu secara
meruang, yang dinyatakan dengan titik, garis, symbol dan warna.
Pelaksanaan pekerjaan pemetaan dapat dilakukan secara langsung di lapangan dan
dengan bantuan interpretasi dan analisa foto udara (‘citra’). Skala yang
dipilih, tergantung dari ketelitian dan tujuan. Berdasarkan atas ketelitian
yang diinginkan harus disesuaikan dengan besar kecilnya skala, makin teliti
data yang diinginkan, makin besar skala yang dipakai, sehingga dapat
dikelompokkan menjadi 3 kelompok peta:
a. Peta detail
b. Peta Semi detail
c. Peta pendahuluan.
Pemetaan secara langsung di lapangan pada umumnya
dapat dilakukan dengan 2 cara,yaitu :
1.
Cara Pengukuran Lapangan
2.
Cara plotting pada peta dasar.
Pemetaan dengan cara
Pengukuran
Teknik pemetaan ini, didukung oleh peralatan atau pesawat ukur yang mendeteksi,
mengambil dan memindahkan data ukur kedalam daftar tabulasi dan dengan
menggambarkan langsung titik, garis, bidang dan ruang dan juga data lain yang
sehubungan dengan kebutuhan keatas kertas gambar. Peralatan yang sering dipakai
dalam pengukuran, adalah kompas geologi,
theodolite, WP, dan Plane Table.
II.2 pengenalan kompas
Kompas
adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan selalu
menunjuk arah utara-selatan (meskipun utara yang dimaksud disini bukan utara
yang sebenarnya, tapi utara magnetis).
1. Jenis-jenis
kompas :
a. Kompas
bidik
Gambar 2.1 kompas bidik
Kompas bidik adalah kompas yang biasa
digunakan oleh militer, pramuka, dan pengembara. Kompas ini mudah
mendapatkannya, harganyapun relatif murah, juga penggunaannya cukup sederhana
serta lengkap.
·
Kompas
bidik lensa/kaca;
·
Kompas
bidik Prisma;
Untuk menggunakan kompas bidik ini mesti
dilengkapi juga dengan penggaris, busur drajat, dan lain-lain.
b. Kompas Silva
Gambar 2.2 kompas silva
Kompas ini sudah dilengkapi busur drajat dan
penggaris. Dalam penggunaannya akan sangat mudah karena kompas ini tidak
dilengkapi alat bidik. Kecermatan bidik kompas ini agak kurang.
c. Kompas M 53 A 515
Gambar 2.3 Kompas M 53 A 515
Kompas yang ketiga ini merupakan
penyempurnaan, atau gabungan dari kedua bentuk kompas yang pertama dan kedua.
Cara kerja kompas ini yaitu kemampuan kompas bidik digabung dengan kompas Silva
sehingga makin mudah digunakan; paling tidak untuk saat ini.
d. Kompas brunton
Dalam aktivitas lapangan bagi geologist
tentunya dibutuhkan skill dan berbagai peralatan demi kelancaran aktivitas
tersebut. Salah satunya ialah Kompas brunton, yang tidak hanya sebagai alat
penunjuk arah saja tetapi juga dapat digunakan untuk mengukur kemiringan lereng
atau batuan, mengukur ketinggian suatu unsur geologi dengan cara mencari sudut
elevasinya, mengukur kedudukan struktur. Kompas ini banyak digunakan oleh
geologis sehingga kompas ini sering disebut kompas geologi.
Gambar 2.4 kompas brunton
2.
Bagian-bagian kompas Brunton
Bagian utama Kompas Brunton
1.
Jarum kompas/magnet, kedua ujung dari jarum kompas
selalu menunjuk ke arah kutub utara dan kutup selatan magnetic bumi.
2.
Lingkaran pembagian derajat, pembagian derajat yang
dikenal ada dua yaitu kompas azimuth dan kompas kwardan.
3.
Klinometer, merupakan rangkaian alat yang gunanya
untuk mengukur besarnya kemiringan bidang.
4.
Pengukur horizontal, ada dua berupa sebuah nivo bulat
dan tabung yang bergandengan dengan klinometer berisi air dengan satu
gelembung.
5.
Pengatur Arah
Bagian penyusun inti
1.
Adjusting screw, berupa skrup sebagai penggerak
lingkaran pembagian derajat.
2.
Axial line, Merupakan garis sumbu penyearah objek.
3.
Bull’s eye level (mata sapi), nivo bulat pengukur
horizontal kompas.
4.
Klinometer level, sama seperti mata sapi namun
bentuknya berupa tabung.
5.
Kompas needle, merupakan jarum kompas penunjuk arah
utara selatan kutub magnet bumi.
3.
Pemakaian Kompas dalam
Pengukuran/ Pemetaan,
Cara pemetaan dengan memakai
kompas, biasanya dilakukan pada daerah yang tidak meemiliki peta dasar, yang
dilaksanakan pada pemetaan pendahuluan. Sebagaimana Pemetaan dengan menggunakan
peralatan lainnya, maka cara pemetaan dengan menggunakan kompas geologi; adalah
dengan membuat lintasan-lintasan, dimana tiap-tiap lintasan dihubungkan satu
sama lain secara teratur maupun dengan random. Lintasan dapat dilakukan dengan
cara membuat Polygon tertutup maupun dengan Polygon terbuka secara teratur dan
tidak beraturan.
Ø Lintasan Polygon :
Litasan
polygon adalah suatu lintasan pengukuran yang dibuat berdasarkan kondisi
lapangan :
Ø Lintasan terbuka
Lintasan terbuka adalah suatu pengambilan litasan pengukuran
yang dimulai dari titik awal yang diikatkan dengan titik pasti dan lintasan
pengukuran diakhiri dengan tidak kembali ketitik awal berupa titik akhir yang
terikat dengan titik pasti maupun titik lepas.
Ø Lintasan Tertutup
Adalah suatu
pengukuran, dimana titik akhir pengukuran berimpit dengan dengan titik
awal pengukuran yang terikat dengan titik pasti.
Detail
pengukuran dapat dilakukan dengan membuat jaring-jaring pengukuran secara
random membentuk garis sarang laba-laba, maupun dengan Grid.
II.3
Pengukuran/ Pemetaan Detail Dengan Cara Grid
Pemetaan/ pengukuran detail lapangan dengan tata cara membuat grid, adalah cara
pemetaan yang didahului dengan mengadakan orientasi lapangan, untuk menentukan
arah memanjang dan lebar bidang tanah yang akan dipetakan, apabila bentuk
bidang tanah telah diketahui melalui gambar peta sketsa, pertama-tama dibuat
Base Line memanjang membagi dua bidang memanjang bidang tanah. Base line ini
adalah patokan untuk membuat garis-garis berikutnya yang diperlukan dalam
analisis suatu keadaan tertentu, garis-garis berikutnya dibuat sejajar dan
melintang base line (disebut, cross line) dengan interval tertentu sesuai
dengan akurasi kebutuhan analisis.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Cara Menentukan Arah dengan Kompas
Pada dasarnya penentuan
arah dengan memakai kompas, dapat dilakukan dengan memakai semua jenis kompas,
dalam hal ini akan dibahas pemakaian kompas yang mempunyai pembagian derajat 0o
– 360o. Tata cara pemakaian dengan baik agar supaya diperoleh suatu
nilai pengukuran yang bermutu tinggi, dan anjuran agar supaya mengikuti tata
tertib pemakaian kompas sebagai berikut :
1. Keluarkan
kompas dari sarungnya, dan periksalah dengan baik kelincahan gerak jarum kompas
dengan posisi gelembung udara nivo (‘bull’s eye level’) berada tepat ditengah
lingkaran merah. Apakah tidak ada hambatan gerak jarum kompas oleh karena
bersentuhan dengan gelas penutup.
2. Apabila
kompas dalam keadaan sulit untuk bergerak bebas, jangan langsung dibuka sendiri
gelas penutup kompas (berkonsultasikan dengan asisten / teknisi).
3. Apabila
sudah seimbang sempurna, peganglah kompas pada posisi kompas diletakkan diatas
telapak tangan dan dilengketkan pada perut agar supaya tidak mudah goyah
sambil meluruskan pengarah ke objek dengan tetap mempertahankan posisi
gelembung ditengah-tengah nivo.
4. ‘Sighting
arm’ (‘lengan pengarah’) dibuka horizontal dan ‘peep sight’ ditegakkan dan
diarahkan ke objek, dalam keadaan kompas tetap seimbang.
5. Setel
cermin pengarah sehingga titik objek terlihat pada cermin masuk ke lobang
pengarah dan terletak pada garis poros cermin sambil tetap mempertahankan
kompas (perhatikan gelembung udara pada nivo, harus tetap berada ditengah
lingkaran)
6. Pembacaan
dilakukan apabila jarum sudah diam.
7. Catat
nilai / angka yang ditunjuk pada kertas blanko yang disiapkan (table berikut)
Cara Menentukan Arah dengan Kompas
8. Posisi
kompas dapat pula dengan meletakkan kompas sejajar atau setinggi dengan posisi
mata, kedudukan kompas terbalik dimana ‘sighting arm’ pada posisi belakang
dekat dengan mata dan didepan valve dibuka kurang lebih 45o sehingga
pembacaan nilai arah kompas tampak pada bayangan cermin.
III.2 Menentukan Sudut Kemiringan Permukaan
Tanah dan Lereng dengan Klinometer
1. Harap
diperhatikan, Posisi pengukur dan objek harus dalam keadaan tetap, tidak
bergeser, letakkan kompas sejajar mata pada posisi kompas dimiringkan dengan
nivo tabung pada posisi atas dan peep sight didepan mata.
2. Tekuk
cermin kompas kira-kira 45
3. Arahkan
kompas ke objek melalui lobang intip ‘peep sight’ dan ‘sighting windows’
4. Setel
klinometer dengan cara memutar alat penyetel klinometer dibelakang kompas,
sehingga bayangan nivo tabung klinometer seimbang yang nampak pada cermin.
5. Tetapkan
pembacaan lepaskan tangan pada alat penyetel klinometer, pembacaan nilai
kemiringan lereng dapat dibaca dengan terlebih dahulu menurunkan kompas dari
sejajar dengan mata ke posisi terletak depan perut agar supaya pembacaan dapat
seakurat mungkin.
6. Catat
hasil pembacaan angka / nilai pada table tersedia
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
Setelah melakukan praktikum dilapangan dan
melakukan pengolahan data, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
IV.1.1
Tabel Data
Tabel 4.1 Hasil pengamatan dan pengolahan
|
Titik
|
α
|
Jarak (s)
|
Pengamatan
|
Hitungan
|
||
|
(meter)
|
X1
|
Y1
|
X1
|
Y1
|
||
|
A1
|
N 62º E
|
20,93
|
38,40
|
37,30
|
38,13
|
37,83
|
|
A2
|
N 141º E
|
14,30
|
29,20
|
16,80
|
29
|
16,88
|
|
A3
|
N 201º E
|
11,70
|
15,80
|
15,80
|
15,70
|
17,07
|
|
A4
|
N 340º E
|
9,64
|
16,80
|
16,80
|
16,70
|
37,05
|
|
B1
|
N 14º E
|
5,95
|
21,25
|
33,4
|
21,43
|
32,39
|
|
B2
|
N 80º E
|
10,49
|
29,6
|
29,4
|
30,33
|
29,33
|
|
B3
|
N 305º E
|
10,75
|
11,8
|
33,8
|
11,81
|
33,73
|
|
B4
|
N 340º E
|
8,40
|
17
|
35,6
|
17,14
|
35,89
|
|
C1
|
N 345O E
|
9,40
|
17,6
|
37,2
|
17,56
|
37,08
|
|
C2
|
N 66O E
|
14,80
|
33,6
|
34,2
|
33,52
|
34
|
|
C3
|
N 125O E
|
19,35
|
35,8
|
16,8
|
35,85
|
16,9
|
|
C4
|
N 171O E
|
14,40
|
21,2
|
13,6
|
22,25
|
13,77
|
|
D1
|
N 341O E
|
26,85
|
9,4
|
26
|
46,59
|
54,59
|
|
Titik
|
α
|
Jarak (s)
(meter)
|
Pengamatan
|
Hitungan
|
||
|
X1
|
Y1
|
X1
|
Y1
|
|||
|
D3
|
N 180O E
|
12,00
|
0
|
15
|
30,21
|
21,6
|
|
D4
|
N 310O E
|
14,45
|
10
|
8,4
|
8,42
|
19,35
|
|
E1
|
N 357º E
|
10,32
|
19,6
|
33,1
|
19,45
|
38,3
|
|
E2
|
N 86º E
|
16
|
36
|
29,2
|
35,88
|
29,1
|
|
E3
|
N 123º E
|
22,57
|
37,4
|
15,6
|
38,92
|
15,7
|
|
E4
|
N 150º E
|
15,73
|
31,9
|
14,4
|
27,86
|
14,37
|
|
F1
|
N 6º E
|
21,71
|
23,7
|
49,2
|
22,26
|
49,0
|
|
F2
|
N 123º E
|
9,75
|
33,2
|
18,8
|
33,40
|
18,0
|
|
F3
|
N 220,2º E
|
17,23
|
8,15
|
20,8
|
8,32
|
20,1
|
|
F4
|
N 354º E
|
15,00
|
15,7
|
42
|
15,70
|
42,40
|
|
G1
|
N 35,8º E
|
12,05
|
26,8
|
23,8
|
27,04
|
37,7
|
|
G2
|
N 115,5º E
|
10,90
|
29,3
|
23,4
|
29,83
|
23,3
|
|
G3
|
N 240º E
|
12,16
|
9,6
|
21,6
|
9,46
|
21,92
|
|
G4
|
N 330º E
|
20,10
|
9,8
|
45,4
|
9,95
|
45,40
|
|
H1
|
N 354º E
|
9,6
|
19
|
32,8
|
18,9
|
37,54
|
|
H2
|
N 55º E
|
8,7
|
27
|
33
|
27,12
|
32,9
|
|
H3
|
N 134º E
|
10,21
|
26,4
|
21
|
27,3
|
20,9
|
|
H4
|
N 194º E
|
14,21
|
17,6
|
14,2
|
16,56
|
14,21
|
IV.1.2 Perhitungan
X1 = X0 + S
(sin α) , X0 = 20
Y1 = Y0 + S
(cos α) , Y0
= 28
·
Titik A
ü
A1
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
= 20 + (20,93) (sin 62O) =
28 + (20,93) (cos 62O)
= 38,13 = 37,83
ü
A2
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (14,30) (sin 141O) =
28 + (14,30) (cos 141O)
=
29 =
16,88
ü
A3
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (11,70) (sin 201O) =
28 + (11,70) (cos 201O)
=
15,70 =
17,70
ü
A4
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (9,64) (sin 340O) = 28 + (9,64) (cos 340O)
= 16,70 =
37,05
·
Titik B
ü
B1
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
= 20 + (5,95) (sin 14O)
= 28 + (5,95)
(cos 14O)
= 21,43 = 32,39
ü
B2
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (10,49) (sin 80O) = 28 + (10,49) (cos 80O)
=
30,33 =
29,33
ü
B3
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (10,75) (sin 305O) = 28 + (10,75) (cos 305O)
=
11,81 =
33,73
ü
B4
X1 = X0 + S (sin α) Y1 =
Y0 + S (cos α)
=
20 + (8,40) (sin 340O) = 28 + (8,40) (cos 340O)
= 17,127 = 35,89
·
Titik C
ü
C1
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
= 20 + (9,40) (sin 345O) =
28 + (9,40)
(cos 345O )
= 17,56 =
37,08
ü
C2
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (14,80)
(sin 66O) =
28 + (14,80)
(cos 66O)
=
33,52 =
34
ü
C3
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (19,35)
(sin 125O) =
28 + (19,35)
(cos 125O)
=
35,85 =
16,9
ü
C4
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (14,40)
(sin 171O) =
28 + (14,40)
(cos 171O)
= 22,25 =
13,77
·
Titik D
ü
D1
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
= 20 + (26,85) (sin 3410 ) = 28 + (26,85) (cos 341O)
= 46,59 = 54,59
ü
D2
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (14,00) (sin 63O) = 28 + (14,00) (cos 63O)
=
22,34 =
41,80
ü
D3
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (12,00) (sin 310O) = 28 + (12,00) (cos 310O)
=
30,21 =
21,6
ü
D4
X1 = X0 + S (sin α) Y1
= Y0 + S (cos α)
=
20 + (14,45) (sin 180O) = 28 + (14,45) (cos 180O)
= 8,42 = 19,35
·
Titik E
ü
E1
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
= 20 + (10,32) (sin
357º) =
28 + (10,32) (cos 357º)
= 19,45 =
38,3
ü
E2
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (16) (sin 86º) =
28 + (16) (cos 86º)
=
35,88 = 29,1
ü
E3
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (22,57) (sin 123O) =
28 + (22,57) (cos 123O)
=
38,92 =
15,7
ü
E4
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (15,73) (sin 150O) =
28 + (15,73) (cos 150O)
= 27,86 = 14,37
·
Titik F
ü
F1
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
= 20 + (21,71) (sin 6O)
= 28 + (21,71)
(cos 6O)
= 22,3 =
49,0
ü
F2
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (9,75) (sin 123O) = 28 + (9,75) (cos 123O)
=
33,40 =
18,0
ü
F3
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (17,23) (sin 220,2O) = 28 + (17,23) (cos 220,2O)
=
8,32 =20,1
ü
F4
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (15) (sin 354O) = 28 + (15) (cos 354O)
= 15,70 =
42,4
·
Titik G
ü
G1
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
= 20 + (12,05) (sin
35,8º) =
28 + (12,05) (cos 35,8º)
= 27,04 =
37,7
ü
G2
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (10,90) (sin 115,5º) = 28 + (10,90)
(cos 115,5º)
=
29,83 =
23,3
ü
G3
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (12,16) (sin 240º) = 28 + (12,16)
(cos 240º)
=
9,46 =
21,92
ü
G4
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (20,10) (sin 330º) =
28 + (20,10) (cos 330º)
= 9,95 = 45,40
·
Titik H
ü
H1
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
= 20 + (9,6) (sin 354º) =
28 + (9,6) (cos 354º)
= 18,9 =
37,54
ü
H2
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (8,7) (sin 55O) =
28 + (8,7) (cos 55O)
=
27,12 =
32,9
ü
H3
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (10,21) (sin 134O) = 28 + (10,21)
(cos 134O)
=
27,3 =
20,9
ü
H4
X1 = X0 + S (sin α) Y1 = Y0 + S (cos α)
=
20 + (14,21) (sin 194O) =
28 + (14,21) (cos 194O)
= 16,56 = 14,21
IV.2
pembahasan
Dalam praktikum ini, pertama-tama yang harus
dilakukan adalah menentukan satu titik sebagai titik dasar. Selanjutnya tiap
anggota kelompok menentukan empat titik (satu titik pada satu kuadran) dengan
jarak tertentu dari titik dasar. Setelah semuanya selesai, baru dimulai proses
perhitungan.
Perhitungan dimulai dengan mencari besarnya
sudut titik dasar terhadap titik pada kuadran satu, titik dasar terhadap titik
pada kuadran kedua, titik dasar terhadap titik pada kuadran ketiga, dan titik
dasar terhadap titik pada kuadran keempat dengan menggunakan kompas. Adapun
cara perhitungannya dapat dilihat pada BAB III. Yang kedua adalah menghitung
jarak antara titik dasar dengan titik pada tiap kuadran. Dari hasil inilah yang
akan diplot kedalam kertas grafik A3.
Proses plot dilakukan dengan menggunakan
perbandingan 1 : 200,. Hal ini berarti bahwa jarak pada peta satu cm, sedangkan
jarak sesungguhnya adalah 200 cm. Misalnya untuk titik A1, jaraknya
adalah 20,93 m. jarak ini dikonversi kedalam cm kemudian dibagi 200, hasil bagi
inilah yang merupakan panjang jarak pada peta. Setelah proses plot sudah
selesai, maka langkah selanjutnya adalah menghitung panjang x1 dan y1
semua titik pada hasil plot, panjang ini merupakan hasil pengamatan.
Untuk perhitungannya rumusnya adalah sebagai berikut :
- X1
= x0 + S Sin α
- Y1
= y0 + S Cos α
Dimana
x0
= panjang sumbu X
Y0
= panjang sumbu Y
S =
jarak titik yang akan dihitung terhadap titikdasar
α =
sudut antara titik dasar dengan titik yang akan dihitung
Setelah melihat hasil diatas, terdapat
perbedaan antara pengamatan dan perhitungan. Perbedaan tersebut terdapat pada
angka didepan koma. Adanya perbedaan antara pengamatan dan perhitungan
disebabkan karena kekurang telitian pada saat pengukuran di lapangan dan
pengukuran hasil plot. Kekurang telitian di lapangan disebakan karena kondisi
cuaca yang tidak mendukung, seperti panasnya sinar matahari. Sedangkan untuk
kekurang ketelitian pada hasil plot disebabkan karena kemampuan pengukur dalam mengukur
jarak yang terkecil. Hal inilah yang menyebabkan adanya perbedaan antara
pengamatan dan perhitungan.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum dapat diambil kesimpulan
bahwa :
1.
Untuk menghitung sudut azimuth, nipo tabung
harus benar-benar sentring.
2.
Antara nilai pengamatan dan nilai hitungan
terdapat perbedaan, hal ini disebakan karena kekurang telitian dalam mengukur
jarak yang terkecil.
3.
Nipo kotak berfungsi pada saat penghitungan titik
yang daerahnya datar. Sedangkan nipo tabung berfungsi pada saat penghitungan
kemiringan suatu daerah.
4.
Perhitungan titikx menggunakan rumus X1
= x0 + S Sin α dan titik y rumusnya adalah Y1 = y0
+ S Cos α
V.1
Saran
1. Praktikum
Sebaiknya
praktikan yang gares (gagal respon) tetap diikutkan untuk mengikuti praktikum
2. Asisten
Sebaiknya dalam
melakukan praktikum, asisten membimbing praktikan agar tujuan yang ditargetkan
dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
http://mapalamahesa.multiply.com/journal/item/5/Pengetahuan_Medan_dan_Pengenalan_Kompas?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem (Di akses 18 Oktober 2011, pukul
17.00)
http://arismaduta.org/index.php?option=com_content&view=article&id=81:bagian-bagian-kompas&catid=51:navigasi&Itemid=74 (Di akses 18 Oktober 2011, pukul
19.05)
http://gepramansel.wordpress.com/2011/03/26/bagian-bagian-kompas/ (Di akses 19 Oktober 2011, pukul
20.17)
http://survivalrescue.blogspot.com/2011/04/pengenalan-kompas.html (Di akses 18 Oktiber 2011, pukul
17.15)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar