Selasa, 25 Oktober 2011

LAPORAN PRAKTIKUM PERPETAAN
PENGENALAN KOMPAS


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................ iii
DAFTAR TABEL .................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
i.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
I.2 Maksud dan Tujuan ........................................................................... 2
I.3 Alat dan Bahan ................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 3
II.1 Pengertian Pemetaan Geologi .............................................................. 3
II.2 Pengenalan Kompas ......................................................................... 4
II.3 Pengukuran/Pemetaan Detail Dengan Cara Grid ...................................... 8
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..................................................... 9
III.1 Cara  Menentukan Arah Dengan Kompas ............................................. 9
III.2 menetukan sudut kemiringan permukaan tanah dan lereng dengan klinometer   10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 11
IV.1 Hasil ............................................................................................. 11
IV.1.1 Tabel Data .............................................................................. 11
IV.1.2 Perhitungan .............................................................................. 12
IV.2 Pembahasan .................................................................................. 18
BAB V PENUTUP ................................................................................... 20
V.1 Kesimpulan ...................................................................................... 20
V.2 Saran ............................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN A TUGAS PENDAHULUAN DAN RESPON
LAMPIRAN B LAPORAN SEMENTARA
LAMPIRAN C PETA HASIL PLOT


DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 kompas bidik ............................................................................ 4
Gambar 2.2 kompas silva ............................................................................ 5
Gambar 2.3 kompas M 53 A 515 ................................................................... 5
Gambar 2.4 kompas brunton ........................................................................ 6


DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Hasil pengamatan dan pengolahan ................................................... 11



 BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Salah satu pekerjaan yang pokok bagi seorang geologiwan adalah membuat peta geologi. Peta geologi diartikan sebagai bentuk ungkapan data geologi suatu daerah atau wilayah   yang ketelitiannya didasarkan pada skala petanya. Peta geologi tersebut menggambarkan atau memberikan informasi segala hal mengenai keadaan geologi wilayah tersebut antara lain sebaran, jenis, dan sifat batuan, umur, stratigrafi, struktur, fisiografi, sumberdaya alam dan energi. Ada beberapa cara penggambaran informasi tersebut antara lain dengan warna, simbol dan corak atau gabungan dari ketiganya. Nilai dari suatu peta geologi sangat tergantung pada si pemeta, seperti ketelitiannya di lapangan, pengetahuan dasar ilmu geologi, dan tentunya pengalamannya. Peta geologi dapat dipergunakan untuk bermacam keperluan, sehingga pembuatannya harus disesuaikan dengan keperluan tersebut. Walaupun pada dasarnya semua peta geologi adalah sama, tetapi untuk tiap-tiap macam peta mempunyai penekanan-penekanan tertentu sesuai dengan tujuan atau keperluan pembuatan peta tersebut.
Karena kompleksnya pekerjaan pembuatan peta geologi tersebut maka selain dituntut pengetahuan dasar geologi, diperlukan juga managemen pengumpulan data di lapangan. Hal ini dimaksudkan agar pekerjaan di lapangan dapat dilakukan seefisien mungkin dengan waktu sesingkat mungkin dan biaya yang sekecil mungkin. Dalam aktivitas lapangan bagi geologist tentunya dibutuhkan skill dan berbagai peralatan demi kelancaran aktivitas tersebut. Salah satunya ialah Kompas Brunton, yang tidak hanya sebagai alat penunjuk arah saja tetapi juga dapat digunakan untuk mengukur kemiringan lereng atau batuan, mengukur ketinggian suatu unsur geologi dengan cara mencari sudut elevasinya, mengukur kedudukan struktur.
I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud
Setelah melakukan praktikum ini, praktikan dapat mengetahui bagian-bagian kompas dan fungsinya serta dapat menghitung sudut azimuth dengan menggunakan kompas brunton.
I.2.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1.    Mengenal bagian-bagian kompas dan fungsi-fungsinya
2.    Menghitung sudut azimuth dengan menggunakan kompas brunton
3.    Membuat plot dari hasil perhitungan titik
I.3 Alat dan Bahan
1.    Kompas Brunton
2.    Patok panjang 2 meter  (satu kelompok)
3.    Patok panjang 50 cm  sebanyak empat
4.    Roll meter





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Pengertian Pemetaan Geologi
            Pemetaan adalah suatu kegiatan pengumpulan data lapangan, yang memindahkan keadaan sesuangguhnya dilapangan (‘fakta’) keatas kertas gambar atau kedalam peta dasar yang tersedia, yaitu dengan menggambarkan penyebaran dan merekonstruksi kondisi alamiah tertentu secara meruang, yang dinyatakan dengan titik, garis, symbol dan warna.
            Pelaksanaan pekerjaan pemetaan dapat dilakukan secara langsung di lapangan dan dengan bantuan interpretasi dan analisa foto udara (‘citra’). Skala yang dipilih, tergantung dari ketelitian dan tujuan. Berdasarkan atas ketelitian yang diinginkan harus disesuaikan dengan besar kecilnya skala, makin teliti data yang diinginkan,  makin besar skala yang dipakai, sehingga dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok peta:
a.     Peta detail
b.     Peta Semi detail
c.     Peta pendahuluan.
Pemetaan secara langsung di lapangan pada umumnya dapat dilakukan dengan 2 cara,yaitu :
1.    Cara Pengukuran Lapangan
2.    Cara plotting pada peta dasar.


Pemetaan dengan cara Pengukuran
            Teknik pemetaan ini, didukung oleh peralatan atau pesawat ukur yang mendeteksi, mengambil dan memindahkan data ukur kedalam daftar tabulasi dan dengan menggambarkan langsung titik, garis, bidang dan ruang dan juga data lain yang sehubungan dengan kebutuhan keatas kertas gambar. Peralatan yang sering dipakai dalam pengukuran, adalah kompas geologi, theodolite, WP, dan Plane Table.
II.2 pengenalan kompas                                                                                                
Kompas adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan selalu menunjuk arah utara-selatan (meskipun utara yang dimaksud disini bukan utara yang sebenarnya, tapi utara magnetis).
1.    Jenis-jenis kompas :
a.    Kompas bidik


Gambar 2.1 kompas bidik
Kompas bidik adalah kompas yang biasa digunakan oleh militer, pramuka, dan pengembara. Kompas ini mudah mendapatkannya, harganyapun relatif murah, juga penggunaannya cukup sederhana serta lengkap.
·         Kompas bidik lensa/kaca;
·         Kompas bidik Prisma;
Untuk menggunakan kompas bidik ini mesti dilengkapi juga dengan penggaris, busur drajat, dan lain-lain.
b.    Kompas Silva
Gambar 2.2 kompas silva
Kompas ini sudah dilengkapi busur drajat dan penggaris. Dalam penggunaannya akan sangat mudah karena kompas ini tidak dilengkapi alat bidik. Kecermatan bidik kompas ini agak kurang. 
c.    Kompas M 53 A 515




Gambar 2.3 Kompas M 53 A 515
Kompas yang ketiga ini merupakan penyempurnaan, atau gabungan dari kedua bentuk kompas yang pertama dan kedua. Cara kerja kompas ini yaitu kemampuan kompas bidik digabung dengan kompas Silva sehingga makin mudah digunakan; paling tidak untuk saat ini.

d.    Kompas brunton
Dalam aktivitas lapangan bagi geologist tentunya dibutuhkan skill dan berbagai peralatan demi kelancaran aktivitas tersebut. Salah satunya ialah Kompas brunton, yang tidak hanya sebagai alat penunjuk arah saja tetapi juga dapat digunakan untuk mengukur kemiringan lereng atau batuan, mengukur ketinggian suatu unsur geologi dengan cara mencari sudut elevasinya, mengukur kedudukan struktur. Kompas ini banyak digunakan oleh geologis sehingga kompas ini sering disebut kompas geologi.





Gambar 2.4 kompas brunton
2.    Bagian-bagian kompas Brunton
Bagian utama Kompas Brunton
1.    Jarum kompas/magnet, kedua ujung dari jarum kompas selalu menunjuk ke arah kutub utara dan kutup selatan magnetic bumi.
2.    Lingkaran pembagian derajat, pembagian derajat yang dikenal ada dua yaitu kompas azimuth dan kompas kwardan.
3.    Klinometer, merupakan rangkaian alat yang gunanya untuk mengukur besarnya kemiringan bidang.
4.    Pengukur horizontal, ada dua berupa sebuah nivo bulat dan tabung yang bergandengan dengan klinometer berisi air dengan satu gelembung.
5.    Pengatur Arah


Bagian penyusun inti
1.    Adjusting screw, berupa skrup sebagai penggerak lingkaran pembagian derajat.
2.    Axial line, Merupakan garis sumbu penyearah objek.
3.    Bull’s eye level (mata sapi), nivo bulat pengukur horizontal kompas.
4.    Klinometer level, sama seperti mata sapi namun bentuknya berupa tabung.
5.    Kompas needle, merupakan jarum kompas penunjuk arah utara selatan kutub magnet bumi.
3.    Pemakaian Kompas dalam Pengukuran/ Pemetaan,
Cara pemetaan dengan memakai kompas, biasanya dilakukan pada daerah yang tidak meemiliki peta dasar, yang dilaksanakan pada pemetaan pendahuluan. Sebagaimana Pemetaan dengan menggunakan peralatan lainnya, maka cara pemetaan dengan menggunakan kompas geologi; adalah dengan membuat lintasan-lintasan, dimana tiap-tiap lintasan dihubungkan satu sama lain secara teratur maupun dengan random. Lintasan dapat dilakukan dengan cara membuat Polygon tertutup maupun dengan Polygon terbuka secara teratur dan tidak beraturan.
Ø  Lintasan Polygon :
Litasan polygon adalah suatu lintasan pengukuran yang dibuat berdasarkan kondisi lapangan :
Ø  Lintasan terbuka
Lintasan terbuka  adalah suatu pengambilan litasan pengukuran yang dimulai dari titik awal yang diikatkan dengan titik pasti dan lintasan pengukuran diakhiri dengan tidak kembali ketitik awal berupa titik akhir yang terikat dengan titik pasti maupun titik lepas.


Ø  Lintasan Tertutup
Adalah suatu pengukuran, dimana titik akhir pengukuran berimpit dengan  dengan titik awal pengukuran yang terikat dengan titik pasti.
Detail pengukuran dapat dilakukan dengan membuat jaring-jaring pengukuran secara random membentuk garis sarang laba-laba, maupun dengan Grid.
II.3 Pengukuran/ Pemetaan Detail Dengan Cara Grid
            Pemetaan/ pengukuran detail lapangan dengan tata cara membuat grid, adalah cara pemetaan yang didahului dengan mengadakan orientasi lapangan, untuk menentukan arah memanjang dan lebar bidang tanah yang akan dipetakan, apabila bentuk bidang tanah telah diketahui melalui gambar peta sketsa, pertama-tama dibuat Base Line memanjang membagi dua bidang memanjang bidang tanah. Base line ini adalah patokan untuk membuat garis-garis berikutnya yang diperlukan dalam analisis suatu keadaan tertentu, garis-garis berikutnya dibuat sejajar dan melintang base line (disebut, cross line) dengan interval tertentu sesuai dengan akurasi kebutuhan analisis. 




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Cara Menentukan Arah dengan Kompas

Pada dasarnya penentuan arah dengan memakai kompas, dapat dilakukan dengan memakai semua jenis kompas, dalam hal ini akan dibahas pemakaian kompas yang mempunyai pembagian derajat 0o – 360o. Tata cara pemakaian dengan baik agar supaya diperoleh suatu nilai pengukuran yang bermutu tinggi, dan anjuran agar supaya mengikuti tata tertib pemakaian kompas sebagai berikut :
1.    Keluarkan kompas dari sarungnya, dan periksalah dengan baik kelincahan gerak jarum kompas dengan posisi gelembung udara nivo (‘bull’s eye level’) berada tepat ditengah lingkaran merah. Apakah tidak ada hambatan gerak jarum kompas oleh karena bersentuhan dengan gelas penutup.
2.    Apabila kompas dalam keadaan sulit untuk bergerak bebas, jangan langsung dibuka sendiri gelas penutup kompas (berkonsultasikan dengan asisten / teknisi).
3.    Apabila sudah seimbang sempurna, peganglah kompas pada posisi kompas diletakkan diatas telapak tangan dan dilengketkan pada perut agar supaya tidak mudah goyah sambil  meluruskan pengarah ke objek dengan tetap mempertahankan posisi gelembung ditengah-tengah nivo.
4.    ‘Sighting arm’ (‘lengan pengarah’) dibuka horizontal dan ‘peep sight’ ditegakkan dan diarahkan ke objek, dalam keadaan kompas tetap seimbang.
5.    Setel cermin pengarah sehingga titik objek terlihat pada cermin masuk ke lobang pengarah dan terletak pada garis poros cermin sambil tetap mempertahankan kompas (perhatikan gelembung udara pada nivo, harus tetap berada ditengah lingkaran)
6.    Pembacaan dilakukan apabila jarum sudah diam.
7.    Catat nilai / angka yang ditunjuk pada kertas blanko yang disiapkan (table berikut) Cara Menentukan Arah dengan Kompas
8.    Posisi kompas dapat pula dengan meletakkan kompas sejajar atau setinggi dengan posisi mata, kedudukan kompas terbalik dimana ‘sighting arm’ pada posisi belakang dekat dengan mata dan didepan valve dibuka kurang lebih 45o sehingga pembacaan nilai arah kompas tampak pada bayangan cermin.
III.2 Menentukan Sudut Kemiringan Permukaan Tanah dan Lereng dengan Klinometer
1.    Harap diperhatikan, Posisi pengukur dan objek harus dalam keadaan tetap, tidak bergeser, letakkan kompas sejajar mata pada posisi kompas dimiringkan dengan nivo tabung pada posisi atas dan peep sight didepan mata.
2.    Tekuk cermin kompas kira-kira 45
3.    Arahkan kompas ke objek melalui lobang intip ‘peep sight’ dan ‘sighting windows’
4.    Setel klinometer dengan cara memutar alat penyetel klinometer dibelakang kompas, sehingga bayangan nivo tabung klinometer seimbang yang nampak pada cermin.
5.    Tetapkan pembacaan lepaskan tangan pada alat penyetel klinometer, pembacaan nilai kemiringan lereng dapat dibaca dengan terlebih dahulu menurunkan kompas dari sejajar dengan mata ke posisi terletak depan perut agar supaya pembacaan dapat seakurat mungkin.
6.    Catat hasil pembacaan angka / nilai pada table tersedia

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
Setelah melakukan praktikum dilapangan dan melakukan pengolahan data, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
IV.1.1 Tabel Data
Tabel 4.1 Hasil pengamatan dan pengolahan
Titik
α
Jarak (s)
Pengamatan
Hitungan
(meter)
X1
Y1
X1
Y1
A1
N 62º E
20,93
38,40
37,30
38,13
37,83
A2
N 141º E
14,30
29,20
16,80
29
16,88
A3
N 201º E
11,70
15,80
15,80
15,70
17,07
A4
N 340º E
9,64
16,80
16,80
16,70
37,05
B1
N 14º E
5,95
21,25
33,4
21,43
32,39
B2
N 80º E
10,49
29,6
29,4
30,33
29,33
B3
N 305º E
10,75
11,8
33,8
11,81
33,73
B4
N 340º E
8,40
17
35,6
17,14
35,89
C1
N 345O E
9,40
17,6
37,2
17,56
37,08
C2
N 66O E
14,80
33,6
34,2
33,52
34
C3
N 125O E
19,35
35,8
16,8
35,85
16,9
C4
N 171O E
14,40
21,2
13,6
22,25
13,77
D1
N 341O  E
26,85
9,4
26
46,59
54,59
Titik
α
Jarak (s)
(meter)
Pengamatan
Hitungan
X1
Y1
X1
Y1
D3
N 180O  E
12,00
0
15
30,21
21,6
D4
N 310O  E
14,45
10
8,4
8,42
19,35
E1
N 357º E
10,32
19,6
33,1
19,45
38,3
E2
N 86º E
16
36
29,2
35,88
29,1
E3
N 123º E
22,57
37,4
15,6
38,92
15,7
E4
N 150º E
15,73
31,9
14,4
27,86
14,37
F1
N 6º E
21,71
23,7
49,2
22,26
49,0
F2
N 123º E
9,75
33,2
18,8
33,40
18,0
F3
N 220,2º E
17,23
8,15
20,8
8,32
20,1
F4
N 354º E
15,00
15,7
42
15,70
42,40
G1
N 35,8º E
12,05
26,8
23,8
27,04
37,7
G2
N 115,5º E
10,90
29,3
23,4
29,83
23,3
G3
N 240º E
12,16
9,6
21,6
9,46
21,92
G4
N 330º E
20,10
9,8
45,4
9,95
45,40
H1
N 354º E
9,6
19
32,8
18,9
37,54
H2
N 55º E
8,7
27
33
27,12
32,9
H3
N 134º E
10,21
26,4
21
27,3
20,9
H4
N 194º E
14,21
17,6
14,2
16,56
14,21

IV.1.2 Perhitungan
X1 = X0 + S (sin α)                   , X0  = 20
Y1 = Y0 + S (cos α)                   , Y0 = 28




·         Titik A
ü  A1
X1 = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
= 20 + (20,93) (sin 62O)                         = 28 + (20,93) (cos 62O)
= 38,13                                                = 37,83

ü  A2
X1   = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (14,30) (sin 141O)                        = 28 + (14,30) (cos 141O)
     = 29                                                    = 16,88



ü  A3
X1   = X0 + S (sin α)                                   Y1        = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (11,70) (sin 201O)                        = 28 + (11,70) (cos 201O)
     = 15,70                                                = 17,70

ü  A4
X1   = X0 + S (sin α)                                           Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (9,64) (sin 340O)                         = 28 + (9,64) (cos 340O)
          = 16,70                                                = 37,05


·         Titik B
ü  B1
X1 = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
= 20 + (5,95) (sin 14O)                           = 28 + (5,95) (cos 14O)
= 21,43                                               = 32,39

ü  B2
X1   = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (10,49) (sin 80O)                         = 28 + (10,49) (cos 80O)
     = 30,33                                               = 29,33

ü  B3
X1   = X0 + S (sin α)                                   Y1        = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (10,75) (sin 305O)                       = 28 + (10,75) (cos 305O)
     = 11,81                                               = 33,73

ü  B4
X1   = X0 + S (sin α)                                Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (8,40) (sin 340O)                         = 28 + (8,40) (cos 340O)
          = 17,127                                             = 35,89



·         Titik C
ü  C1
X1 = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
= 20 + (9,40) (sin 345O)                         = 28 + (9,40) (cos 345O )
= 17,56                                               = 37,08

ü  C2
X1   = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (14,80) (sin  66O)                        = 28 + (14,80) (cos 66O)
     = 33,52                                               = 34

ü  C3
X1   = X0 + S (sin α)                                   Y1        = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (19,35) (sin  125O)                      = 28 + (19,35) (cos  125O)
     = 35,85                                               = 16,9
    
ü  C4
X1   = X0 + S (sin α)                                 Y1 = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (14,40) (sin 171O)                       = 28 + (14,40) (cos 171O)
= 22,25                                               = 13,77



·         Titik D
ü  D1
X1 = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
= 20 + (26,85) (sin 3410 )                                = 28 + (26,85) (cos 341O)
= 46,59                                               = 54,59

ü  D2
X1   = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (14,00) (sin 63O)                         = 28 + (14,00) (cos 63O)
     = 22,34                                               = 41,80


ü  D3
X1   = X0 + S (sin α)                                   Y1        = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (12,00) (sin 310O)                       = 28 + (12,00) (cos 310O)
     = 30,21                                               = 21,6

ü  D4
X1   = X0 + S (sin α)                                           Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (14,45) (sin 180O)                       = 28 + (14,45) (cos 180O)
          = 8,42                                                 = 19,35


·         Titik E
ü  E1
X1 = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
= 20 + (10,32) (sin 357º)                         = 28 + (10,32) (cos 357º)
= 19,45                                                   = 38,3

ü  E2
X1   = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (16) (sin 86º)                               = 28 + (16) (cos 86º)
     = 35,88                                                 = 29,1


ü  E3
X1   = X0 + S (sin α)                                   Y1        = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (22,57) (sin 123O)                        = 28 + (22,57) (cos 123O)
     = 38,92                                                 = 15,7

ü  E4
X1   = X0 + S (sin α)                                           Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (15,73) (sin 150O)                        = 28 + (15,73) (cos 150O)
          = 27,86                                                   = 14,37



·         Titik F
ü  F1
X1 = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
= 20 + (21,71) (sin 6O)                           = 28 + (21,71) (cos 6O)
= 22,3                                                = 49,0

ü  F2
X1   = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (9,75) (sin 123O)                          = 28 + (9,75) (cos 123O)
     = 33,40                                               = 18,0

ü  F3
X1   = X0 + S (sin α)                                   Y1        = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (17,23) (sin 220,2O)                      = 28 + (17,23) (cos 220,2O)
     = 8,32                                                 =20,1

ü  F4
X1   = X0 + S (sin α)                                           Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (15) (sin 354O)                            = 28 + (15) (cos 354O)
          = 15,70                                               = 42,4



·         Titik G
ü  G1
X1 = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
= 20 + (12,05) (sin 35,8º)                        = 28 + (12,05) (cos 35,8º)
= 27,04                                                 = 37,7

ü  G2
X1   = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (10,90) (sin 115,5º)                       = 28 + (10,90) (cos 115,5º)
     = 29,83                                                  = 23,3


ü  G3
X1   = X0 + S (sin α)                                   Y1        = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (12,16) (sin 240º)                         = 28 + (12,16) (cos 240º)
     = 9,46                                                   = 21,92

ü  G4
X1   = X0 + S (sin α)                                           Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (20,10) (sin 330º)                         = 28 + (20,10) (cos 330º)
          = 9,95                                                  = 45,40

·         Titik H
ü  H1
X1 = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
= 20 + (9,6) (sin 354º)                            = 28 + (9,6) (cos 354º)
= 18,9                                                   = 37,54

ü  H2
X1   = X0 + S (sin α)                                 Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (8,7) (sin 55O)                              = 28 + (8,7) (cos 55O)
     = 27,12                                                 = 32,9



ü  H3
X1   = X0 + S (sin α)                                   Y1        = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (10,21) (sin 134O)                         = 28 + (10,21) (cos 134O)
     = 27,3                                                   = 20,9

ü  H4
X1   = X0 + S (sin α)                                           Y1          = Y0 + S (cos α)
     = 20 + (14,21) (sin 194O)                         = 28 + (14,21) (cos 194O)
          = 16,56                                                = 14,21
IV.2 pembahasan
Dalam praktikum ini, pertama-tama yang harus dilakukan adalah menentukan satu titik sebagai titik dasar. Selanjutnya tiap anggota kelompok menentukan empat titik (satu titik pada satu kuadran) dengan jarak tertentu dari titik dasar. Setelah semuanya selesai, baru dimulai proses perhitungan.
Perhitungan dimulai dengan mencari besarnya sudut titik dasar terhadap titik pada kuadran satu, titik dasar terhadap titik pada kuadran kedua, titik dasar terhadap titik pada kuadran ketiga, dan titik dasar terhadap titik pada kuadran keempat dengan menggunakan kompas. Adapun cara perhitungannya dapat dilihat pada BAB III. Yang kedua adalah menghitung jarak antara titik dasar dengan titik pada tiap kuadran. Dari hasil inilah yang akan diplot kedalam kertas grafik A3.
Proses plot dilakukan dengan menggunakan perbandingan 1 : 200,. Hal ini berarti bahwa jarak pada peta satu cm, sedangkan jarak sesungguhnya adalah 200 cm. Misalnya untuk titik A1, jaraknya adalah 20,93 m. jarak ini dikonversi kedalam cm kemudian dibagi 200, hasil bagi inilah yang merupakan panjang jarak pada peta. Setelah proses plot sudah selesai, maka langkah selanjutnya adalah menghitung panjang x1 dan y1 semua titik pada hasil plot, panjang ini merupakan hasil pengamatan. Untuk perhitungannya rumusnya adalah sebagai berikut :
-       X1 = x0 + S Sin α
-       Y1 = y0 + S Cos α
Dimana
x0 = panjang sumbu X
Y0 = panjang sumbu Y
S = jarak titik yang akan dihitung terhadap titikdasar
α = sudut antara titik dasar dengan titik yang akan dihitung
Setelah melihat hasil diatas, terdapat perbedaan antara pengamatan dan perhitungan. Perbedaan tersebut terdapat pada angka didepan koma. Adanya perbedaan antara pengamatan dan perhitungan disebabkan karena kekurang telitian pada saat pengukuran di lapangan dan pengukuran hasil plot. Kekurang telitian di lapangan disebakan karena kondisi cuaca yang tidak mendukung, seperti panasnya sinar matahari. Sedangkan untuk kekurang ketelitian pada hasil plot disebabkan karena kemampuan pengukur dalam mengukur jarak yang terkecil. Hal inilah yang menyebabkan adanya perbedaan antara pengamatan dan perhitungan.










BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum dapat diambil kesimpulan bahwa :
1.    Untuk menghitung sudut azimuth, nipo tabung harus benar-benar sentring.
2.    Antara nilai pengamatan dan nilai hitungan terdapat perbedaan, hal ini disebakan karena kekurang telitian dalam mengukur jarak yang terkecil.
3.    Nipo kotak berfungsi pada saat penghitungan titik yang daerahnya datar. Sedangkan nipo tabung berfungsi pada saat penghitungan kemiringan suatu daerah.  
4.    Perhitungan titikx menggunakan rumus X1 = x0 + S Sin α dan titik y rumusnya adalah Y1 = y0 + S Cos α
V.1 Saran
1.    Praktikum
Sebaiknya praktikan yang gares (gagal respon) tetap diikutkan untuk mengikuti praktikum
2.    Asisten
Sebaiknya dalam melakukan praktikum, asisten membimbing praktikan agar tujuan yang ditargetkan dapat tercapai.



DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar: